Menko PMK: Nyepi Milik Kita Semua, Momentum Introspeksi di Tengah Dinamika Dunia

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menghadiri kegiatan Saka Bhoga Shevanam dalam rangka Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026 Masehi yang diselenggarakan Panitia Perayaan Hari Nyepi Nasional di Pura Adhitya Jaya, Jakarta Timur, pada Minggu (1/3/2026).

Kegiatan berbagi makanan tersebut bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan dan sekaligus menjadi ajang berbagi hidangan berbuka puasa bagi umat Muslim. Momentum ini menjadi simbol harmoni dan kerukunan dalam keberagaman Indonesia.

Dalam sambutannya, Menko PMK menegaskan bahwa semangat kebersamaan lintas iman harus terus diperkuat, terlebih ketika berbagai hari besar keagamaan hadir dalam waktu yang berdekatan.

“Kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Kita adalah satu bumi, satu keluarga. Tahun ini menjadi istimewa karena dalam waktu yang berdekatan umat Hindu merayakan Nyepi, umat Islam menjalani Ramadan, Hari Raya Imlek juga berdekatan, dan Rabu Abu menyambut Paskah,” ujarnya.

Menurutnya, pertemuan berbagai momentum keagamaan tersebut bukan sekadar kebetulan waktu, melainkan pengingat kosmologis bahwa semangat “satu bumi, satu keluarga” harus semakin dikuatkan di tengah dunia yang penuh dinamika.

Menko PMK menyampaikan bahwa makna Nyepi sangat relevan dengan kondisi global saat ini yang dipenuhi kebisingan informasi.

“Kita hari ini merasakan dunia ini bising sekali. Bising oleh berbagai macam berita, video yang bukan realita, hiruk-pikuk dunia menghadapi berita bohong, ujaran kebencian, dan fitnah. Kita harus waspada. Dalam tradisi Jawa dikenal istilah ‘mulat sarira’, introspeksi diri. Kita butuh Nyepi untuk melakukan introspeksi diri,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa nilai Nyepi sejatinya bukan hanya milik umat Hindu, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat.

“Nyepi harus menjadi milik kita semua, karena kita semua perlu introspeksi diri di tengah dunia yang penuh kebisingan dan keributan,” katanya.

Menko PMK juga mengapresiasi tema Saka Bhoga Shevanam yang dilaksanakan secara nasional. Menurutnya, semangat melayani umat sama dengan melayani Tuhan, yang mencerminkan tanggung jawab manusia tidak hanya kepada Sang Pencipta, tetapi juga kepada sesama dan alam semesta.

“Artinya, tanggung jawab kita bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada manusia dan seluruh isi bumi yang telah diberikan kepada kita,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK menyampaikan terima kasih kepada umat Hindu, termasuk keluarga besar Bali, yang konsisten menjaga tradisi, identitas budaya, serta kearifan lokal di tengah arus globalisasi.

“Di tengah ekspansi globalisasi, bapak ibu tetap mempertahankan identitas, tradisi, arsitektur, dan busana adat. Itu sungguh menginspirasi,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Menko PMK menyampaikan apresiasi atas kontribusi umat Hindu dalam merawat harmoni kebangsaan.

“Saya atas nama pribadi, keluarga, dan pemerintah, mengucapkan terima kasih kepada umat Hindu yang selalu menginspirasi kita semua,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, Menko PMK turut membagikan makanan berbuka puasa kepada masyarakat sekitar serta menyapa para pelaksana Bhoga Shevanam di seluruh Indonesia melalui pertemuan daring.

Secara nasional, kegiatan Saka Bhoga Shevanam sebagai rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi dilaksanakan serentak di 30 provinsi dan 117 wilayah layanan. Sekitar 17 ribu paket makanan, nasi kotak, sembako, serta takjil berbuka puasa dibagikan kepada masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Panitia Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Nasional Tahun Saka 1948/2026 M Marsda TNI (Purn) I Made Susila Adnyana, Irjen Kemendagri Sang Made Mahendra Jaya, Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI I Nengah Duija, Wali Kota Jakarta Timur Munjirin, Ketua Panitia Nasional Bhoga Shevanam I Nyoman Gede Agus, jajaran pimpinan Parisada Hindu, Keluarga Besar Masyarakat Bali, serta masyarakat Hindu di Jakarta.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok Kemenko PMK)