Wamen P2MI Bahas Peluang Penempatan Pekerja Migran ke Bosnia-Herzegovina Bersama KBRI Sarajevo

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI) Christina Aryani membahas potensi penempatan pekerja migran Indonesia ke Bosnia dan Herzegovina bersama Duta Besar Indonesia untuk Sarajevo, Manahan M.P. Sitompul, secara daring, Kamis (8/1/2025).

Selain membahas potensi penempatan, Wamen Christina dan KBRI Sarajevo juga menyoroti penguatan sinergi lintas kementerian dan perwakilan Indonesia di luar negeri, khususnya terkait perlindungan dan penempatan pekerja migran.

Pemerintah Bosnia dan Herzegovina menyatakan ketertarikan pada kerja sama penempatan pekerja migran melalui skema Government to Government (G2G), yang sebelumnya disampaikan oleh delegasi Labor and Employment Agency Bosnia dan Herzegovina saat kunjungan ke Indonesia pada 16 Desember 2024.

“Minat kerja sama G2G tentu menjadi peluang, namun kami memilih menahan langkah sementara. Kami ingin menyamakan persepsi terlebih dahulu dengan KBRI Sarajevo agar mendapatkan gambaran utuh mengenai kondisi ketenagakerjaan, kebutuhan riil, serta kebijakan di Bosnia dan Herzegovina,” ujar Wamen Christina.

Sepanjang 2024, tercatat 46 pekerja migran Indonesia ditempatkan di Bosnia dan Herzegovina, sementara pada 2025 hingga saat ini tercatat 8 orang. Wamen Christina menekankan angka tersebut kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan, mengingat adanya potensi keberangkatan nonprosedural atau pekerja yang masuk dengan visa kunjungan.

Sektor pekerjaan yang saat ini dominan bagi pekerja migran Indonesia di Bosnia dan Herzegovina adalah hospitality, seperti waiter, asisten koki, dan barista. Mayoritas penempatan dilakukan melalui skema private to private (P2P), dengan sebagian melalui skema mandiri.

Wamen Christina menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai penyedia tenaga kerja global, terutama seiring bonus demografi, sementara banyak negara Eropa menghadapi tantangan penuaan penduduk dan kekurangan tenaga kerja produktif. Berdasarkan pemetaan Kemenaker, sektor-sektor potensial meliputi kesehatan, hospitality, industri otomotif, manufaktur, serta juru las (welder), yang tengah menjadi tren kebutuhan global.

“Indonesia memiliki keunggulan dari sisi pasokan tenaga kerja terampil, khususnya melalui pendidikan vokasi,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Wamen Christina berharap dukungan aktif KBRI Sarajevo dalam memetakan kebutuhan riil pasar kerja, termasuk kebijakan ketenagakerjaan dan keimigrasian setempat. Informasi tersebut akan menjadi dasar perancangan skema penempatan yang aman, legal, dan berkelanjutan.

“Kami juga membuka peluang kerja sama di bidang pelatihan dan sertifikasi, termasuk jika negara tujuan ingin terlibat langsung dalam memastikan kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan mereka. Pola ini sudah mulai diminati beberapa negara, termasuk untuk sektor pelaut dan anak buah kapal,” imbuhnya.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok KemenP2MI)