Tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) dalam mempercepat pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi. Melalui berbagai inisiatif strategis, PGE tidak hanya mendorong transisi energi nasional, tetapi juga memperluas perannya dalam ekosistem energi bersih global. Sepanjang tahun, Perseroan mencatat sejumlah capaian signifikan, mulai dari pengakuan atas praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) berstandar internasional, peningkatan kapasitas terpasang, hingga penguatan kolaborasi dengan mitra nasional dan global.
Sejalan dengan target pengembangan kapasitas hingga 1 gigawatt (GW), PGE menorehkan kemajuan penting di sisi operasional. Pada akhir Juni 2025, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) resmi beroperasi. Dengan beroperasinya pembangkit tersebut, kapasitas terpasang PGE meningkat dari 672 MW menjadi 727 MW. Capaian ini semakin mengukuhkan posisi PGE sebagai pengembang panas bumi terbesar di Indonesia sekaligus menjadi pijakan strategis menuju target jangka panjang Perseroan.
Selain peningkatan kapasitas, PGE terus memperluas kontribusinya terhadap agenda swasembada energi nasional melalui penguatan sinergi dan pengembangan proyek strategis. Pada Agustus 2025, PGE menandatangani Heads of Agreement (HoA) bersama PLN Indonesia Power yang difasilitasi oleh Danantara Indonesia untuk pengembangan 19 proyek panas bumi dengan total kapasitas mencapai 530 MW. Sejalan dengan itu, empat proyek PGE juga terpilih masuk dalam Blue Book Bappenas 2025–2029, yang membuka peluang dukungan pembiayaan internasional hingga US$ 613 juta.
Guna memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor ketenagalistrikan, PGE meluncurkan Pilot Project Green Hydrogen di Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, pada Agustus 2025. Inisiatif ini menjadi langkah awal PGE dalam membangun ekosistem hidrogen hijau yang terintegrasi, mencakup produksi, distribusi, hingga pemanfaatan, sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju industri rendah karbon.
Selain pengembangan hidrogen hijau, PGE juga mulai merintis pengembangan green data center berbasis energi panas bumi. Inisiatif ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dan Framework Agreement bersama Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) serta Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi bagi pengembangan infrastruktur digital yang lebih berkelanjutan dengan dukungan energi bersih.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Edwil Suzandi, menyampaikan bahwa capaian sepanjang 2025 menjadi pijakan penting bagi langkah PGE ke depan.
“Pencapaian sepanjang 2025 menjadi fondasi penting bagi PGE untuk mempercepat pengembangan panas bumi. Kami berkomitmen memperluas kapasitas, memperkuat kolaborasi, serta menciptakan nilai tambah bagi Indonesia dalam perjalanan menuju transisi energi. Fondasi ini menjadi pijakan strategis bagi PGE untuk melangkah ke fase pengembangan berikutnya secara lebih terintegrasi, baik melalui percepatan proyek-proyek prioritas maupun optimalisasi potensi panas bumi nasional. Ke depan, PGE akan terus mendorong pemanfaatan panas bumi yang andal, berkelanjutan, dan bernilai tambah guna mendukung ketahanan energi serta agenda transisi energi nasional,” ujarnya.
Sejalan dengan visi jangka panjang sebagai world-class green energy company, PGE saat ini tengah menggarap berbagai proyek strategis dengan target commercial operation date (COD) bertahap hingga 2029. Proyek-proyek tersebut meliputi PLTP Hululais Unit 1 dan 2, PLTP Lumut Balai Unit 3, PLTP Lahendong Unit 7, Unit 8, dan Bottoming Unit 2, serta eksplorasi PLTP Gunung Tiga. Seluruh portofolio ini mendukung target kapasitas 1 GW dalam 2–3 tahun ke depan dan 1,8 GW pada 2033, sekaligus memperkuat peran PGE dalam mendukung swasembada energi nasional dan target Net Zero Emission 2060.
Komitmen keberlanjutan PGE juga tercermin dari berbagai pengakuan yang diraih sepanjang tahun. PGE dinobatkan sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar 2025 ESG Top-Rated Company versi Sustainalytics dengan skor 7,1, yang menempatkan Perseroan dalam kategori Negligible Risk. Konsistensi kinerja keberlanjutan ini turut tercermin di area operasional melalui perolehan PROPER Emas untuk ke-14 kalinya secara berturut-turut di Area Kamojang, serta untuk ketiga kalinya di Area Ulubelu.
Di tingkat internasional, PGE juga meraih sejumlah penghargaan bergengsi, antara lain ASEAN Renewable Energy Project Awards di Malaysia, empat penghargaan dalam ajang IENA 2025 di Jerman, serta Gold Medal dan Special Prize pada SIIF 2025 di Korea Selatan.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok Pertamina Geothermal Energy)
