Pada penutupan perdagangan hari Selasa (23/12/2025), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan tipis. Rupiah melemah 10 poin atau sekitar 0,06% menjadi Rp16.787 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, pelemahan ini dipicu oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Salah satu faktor utama adalah eskalasi konflik antara AS dan Venezuela terkait upaya penyitaan kapal tanker minyak.
Ibrahim juga menyoroti kembali memanasnya tensi antara Iran dan Israel setelah adanya laporan mengenai potensi operasi ofensif Iran yang terselubung di balik latihan militer skala besar.
Israel bahkan berencana memberikan informasi kepada AS mengenai potensi serangan lanjutan terhadap Iran.
Selain itu, pasar juga masih menantikan potensi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed hingga tahun 2026, seiring dengan data terbaru yang mengindikasikan meredanya tekanan inflasi dan melemahnya pasar tenaga kerja di AS.
Fokus pasar pada perdagangan hari ini tertuju pada berbagai data ekonomi AS, termasuk data ketenagakerjaan ADP, laporan PDB kuartal III, pesanan barang tahan lama, produksi industri, serta indeks kepercayaan konsumen.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa nilai kredit yang belum disalurkan oleh perbankan (undisbursed loan) mencapai Rp2.500 triliun per November 2025.
Ibrahim menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh permintaan kredit yang belum optimal karena korporasi masih bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpendapat bahwa tingginya undisbursed loan menunjukkan masih adanya potensi penarikan kredit di masa depan yang dapat dimanfaatkan oleh debitur untuk ekspansi bisnis.
Dengan kondisi ini, sektor perbankan nasional dinilai masih memiliki ruang untuk mendukung pembiayaan produktif, asalkan diiringi dengan pengelolaan risiko yang baik dan kebijakan ekonomi yang tepat.
Pemulihan berbagai sektor ekonomi, yang didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang optimal, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memperkirakan bahwa rupiah akan terus bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya, dengan potensi ditutup melemah di rentang Rp16.780–Rp16.810 per dolar AS.
