Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Christina Aryani, melakukan pertemuan dengan eks-personel Project Management Office (PMO) Kartu Prakerja untuk mempelajari praktik tata kelola yang bisa diterapkan dalam program SMK Go Global, sebagai upaya meningkatkan kualitas dan kesiapan calon pekerja migran Indonesia.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian P2MI, Wamen Christina menyampaikan, kementeriannya ingin mempelajari pengalaman PMO Kartu Prakerja, khususnya dalam pengelolaan program pelatihan skala besar.
“PMO Kartu Prakerja telah berjalan beberapa tahun dan memberikan pelatihan kepada belasan juta peserta. Dari situ, kami ingin melihat aspek-aspek apa saja yang bisa diadaptasi dan diimplementasikan dalam pengelolaan program SMK Go Global,” ujar Christina, Rabu (21/1/2026).
SMK Go Global merupakan program quick win arahan Presiden Prabowo Subianto, dengan target penempatan 500 ribu pekerja migran ke luar negeri pada tahun 2026. Dari jumlah tersebut, 300 ribu akan berasal dari lulusan SMK melalui program SMK Go Global, sedangkan 200 ribu lainnya berasal dari masyarakat umum dan siswa SMK yang masih menempuh pendidikan, dengan kompetensi yang disiapkan secara terarah agar siap memasuki pasar kerja internasional.
Diskusi dengan PMO Kartu Prakerja banyak membahas aspek teknis pelaksanaan program, mulai dari tata kelola hingga mekanisme operasional. Wamen Christina menekankan bahwa pemanfaatan teknologi menjadi faktor krusial untuk memastikan program berjalan efektif.
“Ketika berbicara tentang proses matching, pengelolaan data, dan pemantauan program, semua itu tidak lagi bisa dilakukan secara manual. Peran teknologi menjadi sangat penting dan tidak terpisahkan,” jelas politisi Partai Golkar ini.
Sistem berbasis teknologi tersebut diharapkan memperkuat pelaksanaan SMK Go Global, terutama dalam memastikan keterhubungan antara lulusan SMK dengan peluang kerja luar negeri yang aman, terukur, dan sesuai kebutuhan pasar kerja global.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok KemenP2MI)
