Tim gabungan dari Vertical Rescue dan Yon TP 836 membangun jembatan gantung di Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, Minggu (22/2/2026). Sungai Meureudu yang membelah Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, merupakan sungai induk (main stem) bagi sejumlah anak sungai (tributary) sebelum bermuara di perairan Selat Malaka. Karakteristik geografis ini membuat wilayah hilir sangat rentan saat hulu dilanda hujan lebat berdurasi lama. Puncaknya pada akhir November 2025 lalu, fenomena Siklon Senyar memicu curah hujan ekstrem yang menyebabkan debit air meluap drastis melampaui kapasitas sungai. Banjir kiriman tersebut tidak hanya membawa massa air, tetapi juga material destruktif berupa potongan kayu, sampah, pasir, hingga bebatuan besar yang menghantam infrastruktur vital, termasuk memutus jembatan penyeberangan di Gampong Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua. Pasca-penanganan darurat, pemerintah kini berfokus pada fase pemulihan infrastruktur demi mengembalikan konektivitas warga yang sempat lumpuh total. Hingga hari Minggu (22/2), pembangunan kembali akses tersebut diwujudkan melalui proyek strategis jembatan gantung yang merupakan hasil kolaborasi solid antara tim ahli dari Vertical Rescue Indonesia dan prajurit Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 836/Brahma Yodha (Yonif TP 836/BY). Dengan dukungan penuh material bangunan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tim gabungan ini terus berjibaku siang dan malam guna memastikan pembangunan berjalan sesuai target, mengingat peran jembatan ini sangat krusial dalam memulihkan roda ekonomi dan memangkas jarak tempuh warga. Saat ini, akumulasi progres fisik pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 65 persen. Secara teknis, sejumlah tahapan utama telah berhasil dituntaskan hingga 100 persen, meliputi pengeboran besi palang, pembentangan enam sling utama (atas dan bawah), mobilisasi material batu dan pasir ke titik A dan B, serta pengecatan dasar atau meni pada gapura di kedua sisi jembatan.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok BNPB)
Banjir kiriman tersebut tidak hanya membawa massa air, tetapi juga material destruktif berupa potongan kayu, sampah, pasir, hingga bebatuan besar yang menghantam infrastruktur vital, termasuk memutus jembatan penyeberangan di Gampong Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua.
Banjir kiriman tersebut tidak hanya membawa massa air, tetapi juga material destruktif berupa potongan kayu, sampah, pasir, hingga bebatuan besar yang menghantam infrastruktur vital, termasuk memutus jembatan penyeberangan di Gampong Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua.
Banjir kiriman tersebut tidak hanya membawa massa air, tetapi juga material destruktif berupa potongan kayu, sampah, pasir, hingga bebatuan besar yang menghantam infrastruktur vital, termasuk memutus jembatan penyeberangan di Gampong Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua.
Banjir kiriman tersebut tidak hanya membawa massa air, tetapi juga material destruktif berupa potongan kayu, sampah, pasir, hingga bebatuan besar yang menghantam infrastruktur vital, termasuk memutus jembatan penyeberangan di Gampong Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua.