Izin Edar Disetujui, Daewoong Hadirkan Terapi Inovatif untuk Pasien Diabetes di Indonesia

Daewoong Pharmaceutical (Daewoong) mengumumkan bahwa perusahaan telah secara resmi memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia untuk obat diabetes terbarunya, Enavogliflozin.

Indonesia saat ini menempati peringkat kelima dunia dalam jumlah penduduk dewasa (20–79 tahun) yang hidup dengan diabetes. Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2024, jumlah orang dewasa dengan diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai 20,4 juta jiwa dan diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta jiwa pada 2045, menandakan beban penyakit kronis jangka panjang yang terus meningkat.

Enavogliflozin, obat inovatif ke-36 yang dikembangkan di Korea Selatan, diberikan sekali sehari dengan dosis 0,3 mg. Obat ini menunjukkan efektivitas penurunan kadar glukosa darah yang setara secara klinis dengan Dapagliflozin, salah satu inhibitor SGLT-2 yang telah banyak digunakan. Hasil uji klinis juga menunjukkan bahwa Enavogliflozin mampu mengendalikan kadar gula darah dengan perbaikan HbA1c dan glukosa plasma puasa, dengan profil keamanan yang mendukung penggunaan jangka panjang.

Inhibitor SGLT-2 bekerja dengan mencegah penyerapan kembali glukosa dan natrium di ginjal melalui protein sodium-glucose cotransporter 2 (SGLT-2). Glukosa dikeluarkan melalui urin, sehingga menurunkan kadar gula darah. Selain itu, obat ini juga dapat membantu menurunkan berat badan ringan dan menurunkan tekanan darah, berpotensi mendukung kesehatan jantung dan ginjal serta menurunkan risiko komplikasi diabetes.

Daewoong berencana menjadikan Enavogliflozin sebagai pintu masuk untuk memperluas pertukaran akademik mengenai pengobatan diabetes antara Korea Selatan dan Indonesia. Upaya ini diwujudkan melalui interaksi dengan tenaga medis dan institusi seperti PERKENI, PAPDI, dan FKUI.

Pada Jakarta Diabetic Meeting 2025 di bulan November, profil klinis Enavogliflozin diperkenalkan kepada sekitar 500 tenaga kesehatan. Pada kesempatan yang sama, Prof. So Hun Kim dari Inha University College of Medicine, Korea Selatan, bersama Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Kepala Divisi Endokrinologi Universitas Indonesia, membahas epidemiologi diabetes dan tantangan pengobatan di kedua negara, sekaligus memperkuat dasar pertukaran akademik yang aplikatif melalui edukasi langsung.

Setelah memperoleh izin edar, Daewoong akan melakukan uji klinis fase 3 tambahan untuk memperluas cakupan penggunaan Enavogliflozin. Uji klinis ini bertujuan membangun bukti klinis yang mencerminkan karakteristik pasien Indonesia dan praktik klinis sehari-hari, memperkuat kepercayaan tenaga kesehatan, serta memperluas pilihan terapi bagi pasien diabetes.

Daewoong juga membangun portofolio terapi untuk diabetes dan dislipidemia, mendukung penanganan penyakit metabolik di Indonesia. Pada November 2025, perusahaan meluncurkan terapi dislipidemia berupa kombinasi dosis tetap Ezetimibe–Rosuvastatin 10/5 mg, dosis rendah pertama di Indonesia, serta varian 10/10 mg dan 10/20 mg untuk menyesuaikan terapi dengan profil risiko kardiovaskular pasien.

Baik In Hyun, Executive Director of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyatakan:
“Enavogliflozin menunjukkan komitmen Daewoong dalam menyediakan terapi inovatif dari Asia yang telah terbukti klinis bagi pasien Indonesia. Dengan efektivitas, keamanan yang baik, dan kemudahan penggunaan sekali sehari, kami bertujuan menawarkan pilihan pengelolaan diabetes jangka panjang berbasis bukti kepada tenaga kesehatan.”

Ia menambahkan, “Kami akan terus memperkuat kolaborasi akademik dengan organisasi profesi dan institusi akademik lokal seperti PERKENI dan FKUI, serta memperluas portofolio kardiometabolik dari dislipidemia hingga diabetes, sehingga kami dapat menjadi mitra layanan kesehatan yang berkontribusi bagi kesehatan masyarakat Indonesia.”