PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) memperkuat perannya sebagai world leading geothermal producer company melalui dukungan terhadap inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong. Dukungan tersebut ditandai dengan pelaksanaan Kick Off ESG Initiative Green Terminal Tanjung Sekong di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten, pada Rabu (11/02).
Keterlibatan ini menegaskan kontribusi PGE dalam menghadirkan solusi energi rendah emisi berbasis panas bumi guna mendukung keberlanjutan operasional infrastruktur energi strategis nasional.
Sinergi Pertamina Group
Acara Kick Off ESG Initiative Green Terminal Tanjung Sekong dihadiri jajaran pimpinan Pertamina Group, antara lain:
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono
Direktur Utama PT Pertamina Energy Terminal, Bayu Prostiyono
Direktur Operasi PT Pertamina Energy Terminal, Rangga Raditya
Direktur Perencanaan Bisnis PT Pertamina International Shipping, Eka Suhendra
Direktur Utama PT Elnusa Petrofin, Doni Indrawan
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Andi Joko Nugroho
Serta jajaran manajemen dan perwira Pertamina Group lainnya
Pengembangan Green Hydrogen Berbasis Panas Bumi
Dalam inisiatif ini, PGE berkontribusi melalui pengembangan green hydrogen berbasis panas bumi yang bersumber dari Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulubelu, Lampung. Green hydrogen tersebut dikembangkan sebagai bagian dari pilot project dan diarahkan untuk mendukung sistem pembangkit listrik rendah karbon di Terminal Tanjung Sekong.
Secara bertahap, inisiatif ini menargetkan peningkatan pemanfaatan listrik rendah karbon hingga sekitar 25 persen dari total kebutuhan listrik operasional terminal.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, menyampaikan bahwa keterlibatan PGE merupakan langkah konkret dalam mengintegrasikan energi panas bumi ke dalam rantai nilai hilir sektor energi.
“PGE memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi melalui pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi bersih yang andal dan berkelanjutan. Melalui pengembangan green hydrogen berbasis panas bumi, kami mendorong pemanfaatan end-to-end panas bumi tidak hanya untuk penyediaan listrik, tetapi juga untuk menciptakan nilai tambah serta mendukung penerapan energi rendah karbon pada fasilitas energi strategis,” ujar Ahmad Yani.
Mendukung Dekarbonisasi dan Ketahanan Energi Nasional
Integrasi panas bumi ke dalam ekosistem operasional terminal menjadi bagian dari sinergi lintas entitas Pertamina Group dalam mendukung agenda dekarbonisasi serta menurunkan emisi dari penggunaan listrik untuk kegiatan operasional terminal. Inisiatif ini juga mencerminkan pengembangan model pemanfaatan energi terbarukan yang dapat direplikasi pada fasilitas energi strategis lainnya.
Terminal LPG Tanjung Sekong merupakan salah satu terminal LPG terbesar di Indonesia yang dikelola oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET). Dengan kapasitas penyimpanan mencapai 98.000 metrik ton (MT) dan kemampuan melayani kapal hingga 65.000 deadweight tonnage (DWT), terminal ini memasok sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG nasional serta berperan vital dalam menjaga stabilitas pasokan energi rumah tangga.
Melalui dukungan terhadap Green Terminal Tanjung Sekong, PGE menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pemanfaatan panas bumi secara end-to-end, termasuk inovasi produk turunan seperti green hydrogen, guna mendukung agenda transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission 2060.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok PT Pertamina Geothermal Energy)
