PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) memperkuat perannya sebagai Geothermal Centre of Excellence melalui penerapan praktik terbaik (best practices) dalam pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui partisipasi aktif PGE dalam seminar dan penjajakan kerja sama kemitraan sister city antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Selandia Baru yang diselenggarakan di Manado, Kamis (12/02/2026).
Penjajakan kemitraan ini membuka peluang kolaborasi di berbagai sektor strategis, antara lain pengembangan energi bersih khususnya panas bumi—pariwisata berkelanjutan, pertanian, perdagangan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Sulawesi Utara dan Selandia Baru memiliki kesamaan karakteristik, mulai dari potensi panas bumi yang besar, kekuatan sektor pariwisata dan agrikultur, hingga nilai budaya yang kuat. Kesamaan ini menjadi fondasi penting untuk pertukaran pengetahuan, peningkatan kerja sama teknis, serta penciptaan nilai tambah ekonomi berkelanjutan bagi kedua wilayah.
Acara yang digelar di Kantor Gubernur Sulawesi Utara tersebut dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, antara lain PLH Sekretaris Daerah Sulawesi Utara Dr. Denny Mangala, Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia H.E. Phillip Taula, Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Gigih Udi Atmo, S.T., M.EPM., Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani, GM PT PLN UIP Sulbagut Wisnu Kuncoro Adi, Direktur Utama PT Gunung Hijau Masarang Aulia Reinozha, Advisor Program Energi Panas Bumi Indonesia Aotearoa New Zealand (PINZ) Ahmad Yuniarto, serta para pemangku kepentingan sektor energi lainnya.
Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, H.E. Phillip Taula, menyoroti besarnya potensi Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lahendong dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di Sulawesi Utara.
“Potensi panas bumi di Lahendong merupakan aset strategis yang luar biasa. Kami mendukung pengembangan panas bumi melalui kerja sama teknis, peningkatan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan antara institusi riset, universitas, dan sektor industri. Dengan kepemimpinan daerah yang kuat, panas bumi dapat menjadi industri jangkar yang menarik investasi, membentuk klaster industri hijau, dan meningkatkan daya saing regional di tingkat nasional maupun Asia Pasifik,” ujarnya.
Komitmen terhadap kemitraan ini juga ditegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Gubernur Sulawesi Utara yang diwakili PLH Sekretaris Daerah Dr. Denny Mangala menyampaikan harapannya agar kerja sama sister city ini memberikan manfaat konkret.
“Melalui program ini, kami berharap terjadi transfer pengetahuan dan teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta terbukanya peluang investasi baru yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, menyambut positif penjajakan kerja sama tersebut dan mendorong Sulawesi Utara menjadi garda terdepan pemanfaatan energi hijau nasional.
“Kita ingin memaksimalkan pemanfaatan panas bumi, tidak hanya untuk listrik, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat. Kemitraan dengan Selandia Baru diharapkan menghasilkan rencana aksi konkret sehingga Sulawesi Utara dapat menjadi provinsi terdepan dalam pembangunan hijau menuju the greenest electricity,” ujarnya.
Saat ini, PGE Area Lahendong mengoperasikan enam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas 120 megawatt (MW), setara dengan 24 persen kebutuhan listrik di Sulawesi Utara. Operasi tersebut berkontribusi pada potensi pengurangan emisi hingga 624.000 ton CO₂ per tahun. PGE juga tengah mengakselerasi pengembangan PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 berkapasitas 2×20 MW serta binary unit berkapasitas 15 MW.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, menyampaikan bahwa PGE Area Lahendong merupakan salah satu wilayah kerja unggulan sekaligus contoh nyata kontribusi panas bumi terhadap pembangunan daerah.
“Selain menghasilkan listrik bersih, PGE berkontribusi langsung terhadap pendapatan daerah melalui PNBP panas bumi, bonus produksi, serta alokasi satu persen pendapatan yang disalurkan ke kas daerah. Ini menjadi modal penting bagi daerah untuk mengembangkan program pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan panas bumi tidak berhenti pada produksi listrik, tetapi juga diarahkan pada penciptaan nilai tambah melalui pemanfaatan langsung (direct use) serta pengembangan rantai bisnis turunan panas bumi.
“Ketika berbicara tentang pengembangan pendapatan baru dan penciptaan nilai tambah, kita tidak hanya membahas produksi listrik bersih, tetapi juga pengembangan rantai nilai panas bumi. Di Lahendong, PGE telah menjalankan berbagai pilot project pemanfaatan langsung. Kami optimistis inisiatif sister city ini dapat menjadi role model kerja sama lintas negara di tingkat daerah, khususnya dalam pengembangan panas bumi dan ekonomi hijau,” pungkasnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, rombongan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia turut mengunjungi Pabrik Gula Aren Masarang di Tomohon serta Lao-Lao Geopark untuk melihat praktik pemanfaatan panas bumi di luar produksi listrik (beyond electricity). Kunjungan tersebut menunjukkan bagaimana energi panas bumi mendukung proses produksi gula aren ramah lingkungan serta pengembangan kawasan wisata edukatif berbasis energi terbarukan sebagai contoh konkret penciptaan nilai tambah bagi masyarakat.
Partisipasi PGE dalam penjajakan kemitraan sister city ini menegaskan perannya sebagai Geothermal Centre of Excellence yang berfokus pada operation excellence, optimalisasi pembangkit eksisting, serta pengembangan inovasi panas bumi yang melampaui produksi listrik.
Melalui kerja sama strategis dengan mitra regional dan internasional, PGE terus mendorong terciptanya nilai tambah panas bumi yang berkelanjutan bagi daerah dan masyarakat.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok Pertamina Geothermal Energy)
