Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI) Christina Aryani menegaskan bahwa Program SMK Go Global tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga memastikan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dapat bekerja di luar negeri secara aman, terampil, dan terlindungi.
Oleh karena itu, menurutnya, program ini membutuhkan kesiapan menyeluruh, termasuk skema pembiayaan penempatan bagi peserta yang juga merupakan calon pekerja migran Indonesia.
“Output Program SMK Go Global adalah penempatan kerja di luar negeri. Untuk itu, tentu ada biaya penempatan yang perlu dipenuhi. Hal ini kami siapkan melalui skema KUR Pekerja Migran,” ujar Christina usai menjadi keynote speaker pada Indonesia Economic Summit (IES), Rabu (4/2/2026).
Christina menyampaikan bahwa KUR Pekerja Migran akan diluncurkan secara serentak pada Maret 2026 di seluruh Indonesia. Program ini melibatkan 17 bank penyalur dengan total plafon pembiayaan mencapai Rp331 miliar.
“Masing-masing bank siap menyalurkan KUR Pekerja Migran hingga Rp100 juta per orang, dengan bunga hanya 6 persen per tahun yang disubsidi pemerintah. Skema ini tanpa agunan, namun kontrak kerja menjadi syarat utama,” ungkap politisi Partai Golkar tersebut.
Ia berharap kehadiran KUR Pekerja Migran dapat menghilangkan hambatan pembiayaan bagi lulusan SMK yang telah mengikuti pelatihan, sehingga dapat berangkat bekerja ke luar negeri secara prosedural dan terlindungi.
Terkait negara tujuan penempatan, Christina menjelaskan bahwa peluang kerja sangat beragam, mulai dari negara konvensional seperti Malaysia, kawasan Timur Tengah, Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa Timur.
Bahkan, salah satu peluang besar datang dari Turki, yang pada tahun ini diperkirakan membutuhkan hingga 40 ribu pekerja, terutama di sektor hospitality.
“Di banyak negara, kebutuhan caregiver dan welder sangat tinggi, sementara tenaga lokal mereka terbatas. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia karena kita memiliki keunggulan. Saat ini juga semakin banyak sekolah vokasi yang membuka pelatihan keterampilan pengelasan,” jelasnya.
Terkait target Program SMK Go Global yang mencapai 500 ribu peserta, terdiri atas 300 ribu lulusan SMK dan 200 ribu peserta umum, Christina menyebut target tersebut bersifat dinamis dan akan disesuaikan dengan kesiapan peserta serta durasi pelatihan.
“Pelatihan bahasa bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan, begitu juga pelatihan keterampilan seperti welder. Karena itu, kami akan mengombinasikan peserta yang sudah memiliki keterampilan dengan mereka yang masih membutuhkan pelatihan tambahan. Program ini harus fleksibel dan terus disesuaikan,” katanya.
Christina menambahkan, Kementerian P2MI telah melakukan uji coba penempatan 200 pekerja terampil ke Korea Selatan pada akhir 2025. Selain itu, sebanyak 21 ribu pekerja migran telah diberangkatkan melalui skema reguler pada Januari–Februari 2026.
“Untuk Program SMK Go Global, kami masih menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan. Begitu proses tersebut selesai, program ini siap dijalankan,” pungkasnya.***(Foto: Ekobisnis.com/Dok KemenP2MI)
