Kolaborasi dengan KP2MI, Perguruan Tinggi Buka Jalur Magang Internasional

EKOBISNIS.COM: Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) resmi menjalin kolaborasi strategis melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sejumlah mitra, mulai dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Yayasan MATAULI, hingga delapan perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Acara yang berlangsung di Kantor KP2MI, Jakarta Selatan, Kamis (16/4/2026) ini menandai babak baru dalam transformasi kelembagaan serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pekerja migran Indonesia.

Dalam sambutannya, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menegaskan bahwa perubahan status dari BP2MI menjadi kementerian merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam menangani isu migrasi tenaga kerja.

“Sekarang kami memiliki peran ganda, tidak lagi hanya sebagai operator atau pelaksana, tetapi juga sebagai regulator yang merumuskan kebijakan. Pengelolaan dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir, mulai dari persiapan calon pekerja hingga pemberdayaan purna-pekerja,” ujar Mukhtarudin.

Kompetensi sebagai Perisai Utama

Mukhtarudin menekankan bahwa strategi utama perlindungan pekerja migran adalah peningkatan kompetensi. Menurutnya, penempatan tenaga kerja tanpa keahlian (unskilled) berisiko tinggi terhadap keselamatan dan kerentanan di negara tujuan.

“Strategi utama dalam melindungi Pekerja Migran Indonesia adalah melalui penguatan kompetensi yang berperan sebagai perisai bagi mereka di luar negeri,” katanya.

Ia menyebutkan, kebijakan KP2MI kini difokuskan pada pengiriman skilled workers, khususnya tingkat menengah hingga tinggi, sejalan dengan upaya menekan risiko kerja di luar negeri. Kebijakan ini juga mendukung target pemerintah untuk menempatkan 500.000 pekerja migran terampil.

Potensi Besar Pasar Kerja Global

Berdasarkan data SIP2MI per 15 April 2026, terdapat 327.658 peluang kerja di luar negeri, namun baru 69.187 posisi (21,12%) yang terserap. Artinya, masih terdapat 258.471 peluang kerja atau 78,88% yang belum terisi.

“Ini adalah tanggung jawab bersama untuk menyiapkan SDM kompeten agar peluang ini tidak terbuang sia-sia dan diisi melalui jalur legal serta aman,” ujar Mukhtarudin.

Ia menegaskan bahwa KP2MI kini membangun ekosistem perlindungan pekerja migran secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pendidikan vokasi, penguatan keterampilan, perlindungan selama bekerja, hingga pemberdayaan pasca penempatan.

Penguatan Vokasi dan Target 500 Ribu Tenaga Terampil

Dalam periode 2026–2029, KP2MI menargetkan penyiapan 500.000 tenaga kerja terampil melalui penguatan pendidikan vokasi, sertifikasi internasional, pembentukan Migrant Center di kampus, serta peningkatan literasi migrasi aman.

“Penandatanganan MoU ini bukan sekadar seremoni, melainkan implementasi kebijakan yang harus segera dijalankan agar pekerja migran kita legal, terampil, terlindungi, dan bermartabat,” tegasnya.

Dukungan Perguruan Tinggi

Kolaborasi ini mendapat dukungan dari berbagai perguruan tinggi yang berkomitmen menjadikan kampus sebagai pusat pencetak pekerja migran profesional dengan sertifikasi global.

Rektor IBI Kosgoro 1957, Haswan Yunaz, menyampaikan pihaknya telah menyiapkan skema kuliah sambil bekerja di luar negeri.

“Kami menyiapkan kurikulum sebelum, saat, dan setelah bekerja agar mahasiswa tetap bisa meraih gelar sarjana sekaligus bekerja di luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Dr. Soetomo, Prof. Siti Marwiyah, menegaskan pihaknya segera membentuk Migrant Center agar MoU tidak berhenti di atas kertas.

“Kami ingin lulusan siap secara akademik dan memiliki sertifikasi keahlian. Senin depan kami langsung tindak lanjuti dengan mitra untuk seleksi penempatan ke Taiwan dan Jepang,” katanya.

Dari sektor kesehatan, Rektor Universitas Sunan Gresik, Abdul Muhith, menyebut mahasiswa telah mengikuti program magang di Jepang dengan penghasilan mencapai 200 ribu yen per bulan.

Adapun Universitas Palangka Raya menilai program ini sebagai upaya nyata negara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga daya saing SDM Indonesia di tingkat global.

Peran Yayasan dan Sektor Perikanan

Ketua Umum Yayasan MATAULI, Fitri Krisnawati Tandjung, menyatakan komitmennya dalam pembinaan tenaga kerja sektor perikanan untuk pasar Jepang dan Jerman.

“Fokus kami adalah pembinaan tenaga kerja terampil di sektor perikanan, yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional,” ujarnya.

KP2MI menyambut baik kolaborasi tersebut dan menegaskan bahwa sinergi lintas lembaga menjadi kunci dalam menutup kesenjangan kebutuhan tenaga kerja global.***(Foto: Ekobisnis.com/Purwa)